Perajin batik tulis di sentra kerajinan Batik Trusmi, di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Perajin batik Cirebon nyatakan dukungannya atas upaya pelestarian seni batik daerah itu dengan menerapkan pelajaran esktrakulikuler membatik kepada siswa SD di kabupaten Cirebon.
Kamis, 1 Oktober 2009 | 20:16 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sejarah membuktikan batik adalah hasil proses budaya asli masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Proses ini jangan berhenti, tetapi justru berkembang setelah batik ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi budaya, Jumat (2/10), di Dubai.
Meskipun belum disebut membatik, seperti disampaikan Guru Besar Arkeologi UGM Timbul Haryono, teknik pengolahan kain tersebut telah dikenal sejak sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara sekitar abad IV Masehi. Bukti-buktinya tertuang di sejumlah prasasti dan arca kuno.Sejumlah prasasti dari abad IX menyebutkan jenis-jenis kain yang diolah dengan teknik mirip batik. Salah satunya adalah Prasasti Balitung yang mengisahkan pesta di sebuah kerajaan. Setiap tamu kehormatan mendapat hadiah kain yang disebut bebet.
"Deskripsi kain ini mirip dengan teknik yang sekarang disebut batik. Dari bukti-bukti ini saya yakin batik asli budaya Jawa," ujar Timbul. Bukti-bukti itu dikuatkan dengan busana pada arca-arca kuno. Motif pada busana arca tersebut mirip dengan motif batik kawung yang dikenal saat ini.
Namun, asal-usul kata batik hingga saat ini belum terlacak. Dari kemiripan bunyi, sejumlah kalangan menduga batik berasal dari gabungan dua kata Jawa, yakni amba dan titik yang artinya membuat titik. Namun, belum ada bukti penguat dugaan itu.
Menurut Timbul, batik bukan sebuah penemuan tiba-tiba. Teknik pengolahan kain ini merupakan hasil proses budaya yang dikembangkan secara turun-temurun. Asal mula pengembangan batik di Jawa sendiri telah dimulai sejak zaman prasejarah. "Tapi karena bukti minim, maka agak sulit melacaknya," ujar Timbul, Kamis.
Proses panjang yang menghasilkan budaya adiluhung itu diharapkan tidak berhenti dengan adanya pengakuan batik sebagai salah satu warisan dunia yang ditetapkan UNESCO pada Jumat besok.
Pembatik di Giriloyo dan Karangtengah, Imogiri, mengaku bahwa keahliannya diwariskan turun-temurun. Keterampilan nenek moyang mereka didapat dari Keraton Yogyakarta. "Ini tak lepas dari faktor daerah yang dekat dengan makam raja-raja Imogiri. Mereka diajari orang keraton saat berziarah," kata Partinem (33), perajin di Karangrejek, Karangtengah.
Saat ini ada 30-an perajin di Karangtengah. Mereka menggunakan pewarna alam, dengan dua metode, yakni batik tulis dan cap. Batik cap baru muncul belakangan karena konsumen keberatan dengan harga batik tulis. Batik tulis, misalnya, dijual Rp 250.000 ke atas, sementara batik cap hanya Rp 50.000-Rp 100.000 per lembar.
Perajin batik tradisional di Banaran, Kulon Progo, berpendapat, pengakuan batik dari UNESCO belum memperbaiki kesejahteraan. Selama tidak ada kebanggaan memakai kain batik lokal, perajin tetap terpuruk. Widodo, perajin di Banaran, berani bertaruh, dari pemakai batik Jumat ini, tak ada 10 persen yang mengenakan batik lokal. Mayoritas pasti memakai batik Pekalongan atau Solo, yang lebih murah.
Parahnya lagi, di pasaran, batik printing yang meraja. Yang benar-benar batik sebenarnya hanya batik tulis, cap, dan kombinasi keduanya. Batik printing hanya kain bermotif batik. Menurut Murdijati Gardjito, Sekretaris Umum Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad Batik, batik printing akan menghancurkan industri batik tradisional, juga mencoreng wajah Indonesia.
Harga murah, tak pelak memang daya tarik batik printing, seperti banyak dijual di sepanjang Malioboro. Wisatawan, terutama domestik, banyak membelinya sebagai oleh-oleh. Ramli, pedagang di Malioboro, mengatakan, baju terusan dan kemeja batik printing, misalnya, dijual Rp 15.000-Rp 30.000. Dalam sehari, 20-an potong pasti terjual. Ramli sendiri tak menjual batik cap.
"Sepekan terakhir, 30-an potong malah," ujar Ramli, yang sudah berjualan sejak tahun 2008. Beberapa hari terakhir, sebagian pedagang di Maliboro seperti Ramli juga berpakaian batik.
Agar mencintai batik, masyarakat mesti banyak disentuhkan dengan batik. Murdijati menyebut, itu bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya sebagai seragam di kantor-kantor, instansi, sekolah, kelompok masyarakat, hingga paguyuban trah. Perlu dibiasakan juga mengenakan batik tak hanya saat resepsi.
Sebagai bentuk pelestarian, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY tengah mempersiapkan 150 guru batik. Setelah memperoleh pelatihan, mereka akan diterjunkan ke sejumlah sekolah, mulai jenjang SD hingga SMA, untuk mengenalkan teknik membatik kepada para pelajar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar