Jumat, 30 Oktober 2009

Benarkah Facebook Membuat Pelajar Bodoh..?

Facebook sebagai salah satu situs jejaring sosial yang paling digemari di dunia telah memikat hati para penggunanya. Tapi tahukah Anda Facebook memiliki dampak yang negatif terhadap pelajar? Hal ini didasarkan menurut studi yang dilakukan oleh Ohio State University.

Facebook memiliki berbagai macam layanan yang membuat penggunanya betah mengakses situs tersebut, hal inilah yang menyebabkan penggunannya tidak mau lepas darinya. Jadi semakin sering Anda menggunakan Facebook maka makin sedikit waktu yang dapat Anda luangkan untuk belajar maka berimbas pada nilai yang semakin buruk.

Studi yang dilakukan terhadap 219 Mahasiswa Ohio State University ini, hanya meneliti hubungan penggunaan Facebook dengan nilai yang didapatkan di sekolah.

Dengan menggunakan Facebook, penggunanya mempunyai rasa ketertarikan untuk selalu mengetahui status yang terjadi pada teman-temannya. Belum lagi aplikasi-aplikasi yang terdapat di dalam Facebook membuat pengguna terlena sehingga menyita waktu untuk belajar.

Untunglah bukan itu yang dilaporkan oleh peneliti Ohio State University. Namun disebutkan bahwa 65% mahasiswa setiap hari mengakses Facebook minimal satu kali dan menghabiskan setidaknya satu jam di laman tersebut. Yang menarik, 79% dari pengguna Facebook merasa bahwa menggunakan laman tersebut tidak mempengaruhi kualitas pekerjaan mereka. Namun yang terpengaruh adalah nilai ujian.

“Hal ini seperti perbedaan antara nilai A dan B,” ujar Aryn Karpinski seorang peneliti dari Ohio State kepada TeknologiNET.

Jumat, 23 Oktober 2009

asalamualaikum wr.wb

Pada hari raya Idul Fitri kemarin, saya sekeluarga shalat di mesjid dekat dengan rumah saya. Selesai shalat, lalu saya bermaaf-maafan dengan kedua orang tua saya..
tak lupa saudara dan tetangga pun bermaaf-maafan dengan kami.
Tradisi yang tak pernah lupa di keluarga kami adalah makan ketupat bersama keluarga, tapi dengan makan ketupat saja tidak lengkap kalau tidak ada opor ayam di keluarga kami karena opor ayam merupakan makanan khas Lebaran.

Lalu kami sekeluarga pergi ke rumah saudara saya yang kebetulan nenek saya juga berlebaran di tangerang, lengkap sudah lebaran tahun ini. Kami sekeluarga berkumpul dengan hati yang gembira. Tapi rasanya kurang bila saya tidak pulang ke kampung halaman saya.

Kamis, 01 Oktober 2009

Respon Cepat SBY Gempa di Padang

Presiden SBY
(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta - Masih ingat pernyataan dalam kampanye Pilpres yang menyebutkan bahwa Presiden SBY bisa juga cepat? Ini dibuktikan Presiden dalam kasus bencana gempa bumi yang menimpa kawasan Padang dan Jambi.

Para korban terus berjatuhan, dan keprihatinan makin dalam. Sampai dengan saat ini, korban tewas sudah mencapai 200 orang dan ribuan orang terperangkap reruntuhan, serta kerugian harta benda triliunan rupiah. Kedahsyatan gempa di pesisir Sumatera ini juga terasa hingga Malaysia dan Singapura.

Presiden SBY cepat merespon bencana gempa di Padang dan Jambi. Gempa susulan masih terjadi di Padang, Sumatera Barat. Seakan tak sempat istirahat, SBY yang baru tiba di Tanah Air, langsung berkoordinasi dan memerintahkan penanganan cepat atas bencana tersebut.

Mendengar musibah gemnpa di Padang, Presiden SBY langsung menghubungi Menko Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie terkait tanggap darurat. Sayang, saat menghubungi JK dan Gubernur Sumbar, SBY tidak tersambung.

Di dalam pesawat Kepresidenan Airbus saat menuju Nagoya, SBY sempat melakukan hubungan telepon dengan Aburizal Bakrie. Ia mendapat laporan bahwa Pemda Sumbar masih bekerja dan langsung melakukan proses tanggap darurat.

"Proses tanggap darurat sedang dan masih terus berjalan," kata Presiden di bandara Nagoya Jepang, saat transit dalam penerbangannya menuju Jakarta dari Boston Amerika Serikat.

Semula SBY akan langsung ke Padang setelah transit di Nagoya ini. Tapi proses tanggap darurat sudah dan sedang berjalan. “Jadi saya memutuskan langsung ke Halim dan dari sana akan melakukan koordinasi," imbuh SBY.

Presiden bersama sejumlah menteri, Kapolri dan Panglima TNI langsung menggelar rapat untuk membicarakan penanggulangan gempa yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. "Rapat dulu di base ops," tutup Sesneg Hatta Rajasa.

Namun demikian, rencana Presiden SBY untuk meninjau lokasi gempa masih harus menunggu sampai keadaan di Padang benar-benar kondusif. "Kita menunggu laporan dari Padang, karena di sana sedang hujan lebat, komunikasi sulit sekali dan masih ada gempa susulan. Kita tunggu keamanannya lebih dahulu," ujar Hatta Rajasa.

Begitu besarnya keprihatinan Presiden, maka meski kendala di lapangan begitu besar, dimana komunikasi dan transportasi masih sulit, kru protokoler kepresidenan sudah bersiap mengatur prosedur keberangkatan.

Rapat dengan Presiden SBY ini melanjutkan pertemuan kabinet semalam yang dipimpin Wapres Jusuf Kalla. Namun reaksi cepat dari pemerintah saja tak cukup tetapi harus didukung seluruh lapisan masyarakat.

Hargai Milik Bangsa Sendiri

Tari Pendet
(ist)

MENTERI Luar Negeri Malaysia berkunjung ke Indonesia, pekan ini. Saat tepat

untuk mengklarifikasi berbagai klaim Malaysia atas budaya milik Indonesia. Namun,

benarkah ini semata kesalahan mereka? Bagaimana tanggungjawab bangsa kita memelihara beragam kebudayaan asli milik Indonesia.

Di akhir masa jabatanya sebagai Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik kembali menghadapi masalah klaim atas budaya Indonesia oleh Malaysia. Tari Pendet, yang jelas-jelas milik Indonesia di klaim sebagai milik Malaysia.

Klaim tersebut terdapat dalam iklan promosi wisata Malaysia. Rakyat Indonesia, kontan meradang. Mereka marah karena ini sudah kesekian kalinya, Malaysia berulah. Mengklaim budaya Indonesia adalah milik mereka.

Sebagai menteri yang mengurusi budaya, Jero Wacik tak tinggal diam. Ia segera meminta klarifikasi pada pihak Malaysia atas klaim tersebut. Malaysia pun meminta maaf atas kekeliruan tersebut.

Seniman dan budayawan asal Malaysia, Suhaemi alias Pak Ngah dalam sebuah perbincangan mengatakan, tidak ada niatan dari Malaysia mengklaim karya budaya milik Indonesia.

"Kita hanya tahu, kita ini negara serumpun,

saling bersaudara. Jadi tidak ada salahnya memperkenalkan budaya milik kita ini," ungkapnya.

Namun, katanya, dalam kasus tari Pendet memang pembuat iklan melakukan kealpaan yakni tidak membuat atau mencantumkan sumber

tarian tersebut.

"Itu jelas bukan tari Malaysia. Malaysia itu Islam, jadi tidak akan ada tarian seperti itu," katanya.

Namun, ia mengakui memang banyak budaya Malaysia dan Indonesia memiliki kemiripan. Maklum, orang Malysia yang memiliki nenek moyang keturunan Indonesia.

"Saya ada darah dari orang Kalimantan, ada juga di Malaysia daerah orang Jawa. Jadi jangan heran, kalau kesenian reog, keris ya

ada juga di sana," ungkapnya.

Malaysia mengklaim, bagaimana kita menyikapinya? Boleh jadi, jangan terburu

nafsu 'mengganyang' Malaysia. Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah selama ini kita sudah memperhatikan dan memelihara seni dan budaya tradisi Indonesia. Jangan-jangan Anda tahu Tari Pendet setelah diributkan di media massa gara-gara diklaim Malaysia saja.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik membenarkan sinyalemen itu. Ia menyayangkan kurangnya perhatian masyarakat terhadap seni-budaya bangsa sendiri. Kurang mau mengapresiasi, bahkan terhadap karya masterpiece yang sudah terdaftar/diinskripsi oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia.

"Untuk solidaritas, ketika terjadi kasus seperti Tari Pendet, dan sebelumnya tahun 2007 Reog Ponorogo, lagu Indang Sungai

Garinggiang, dan Rasa Sayange diklaim Malaysia, kita cepat bereaksi. Namun,

ketika menggalakkannya di dalam negeri, kita kurang mengapresiasi," katanya.

Tiga karya seni-budaya masterpiece yang telah terdaftar/diinskripsi di UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia adalah Wayang (2003),

Keris (2005), dan yang akan terdaftar Batik, diputuskan akhir September 2009. Lalu, akan disusul dengan pendaftaran Angklung. "Dokumennya sudah disiapkan, diperkirakan tahun 2010 sudah terdaftar di UNESCO," kata Jero Wacik yang baru saja mundur dari jabatannya sebagai anggota kabinet.

Ia menjelaskan, "Kita harus mendorong apresiasi karya seni-budaya di dalam negeri. Ini sebuah perjuangan berat. Perlindungan dan pengembangan warisan budaya esensinya adalah upaya penanaman kembali keyakinan di dalam diri anak bangsa Indonesia bahwa kebudayaan asli kita adalah sesuatu yang

sangat luhur dan membanggakan. Wayang, misalnya, sudah diakui oleh UNESCO, tapi di dalam negeri kurang ditonton. Padahal, wayang itu tinggi nilai filosofinya.

Presiden sudah mempelopori nonton wayang hingga pukul 04.00 pagi. Nilai-nilai kebangsaan, filsafat hidup, dsb bisa disampaikan dalam wayang."

Penyanyi Melayu, Iyeth Bustami mengungkapkan sebegai generasi muda memang ia melihat banyak rekan-rekannya yang lain mulai melupakan seni tradisi. Musik Melayu, katanya, banyak yang kini sudah melupakannya.

"Anak-anak sekarang lebih merasa bangga kalau menyanyi lagu Barat," ungkapnya. Karenanya, ia sudah beberapa lama ini melakukan pengenalan terhadap anak-anak muda untuk kembali mengenal musik Melayu.

Malaysia Diminta Buat Pernyataan Soal Tari Pendet



(SI)

TANGERANG - Pemerintah Indonesia diminta untuk mendesak Malaysia memberikan pernyataan secara tertulis soal selesainya kisruh Tari Pendet dan Pulau Jemur.

Aktivis Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) Jeppri F Silalahi mengatakan, selesainya kisruh Tari Pendet dan Pulau Jemur tidak hanya dilakukan secara dialog antara dua negara. Namun harus ada pernyataan tertulis dari Malaysia yang isinya berupa pengakuan bahwa budaya yang selama ini diklaim Malaysia merupakan budaya Indonesia.

"Harus ada pengakuan dari Pemerintah Malysia secara resmi dan tertulis bahwa Tari Pendet serta budaya lain yang pernah diklaim adalah budaya Indonesia. Dan itu juga harus diumumkan kepada dunia internasional agar hal ini tidak terulang kembali dan juga tidak terjadi di negara lain," katanya saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Jumat (25/9/2009).

Jeppri yang juga aktivis Tali Geni ini mengatakan, pernyataan secara tertulis perlu dilakukan karena dia melihat ada upaya Malaysia ke depannya untuk menjadikan negaranya sebagai miniatur budaya Asia, di samping ada upaya lain yaitu untuk mematenkan kebudayaan Indonesia menjadi milik Malaysia.

"Seharusnya pemerintah kita jeli melihat itu, karena ketika Malaysia sudah mendapatkan hak patennya maka kita tidak dapat lagi menggunakan kebudayaan kita sendiri. Dan ketika kita ingin memamerkan kebudayaan tersebut, maka kita harus membayar sejumlah royalti kepada Malaysia. Ironis bukan?" tegasnya kembali.

Tidak hanya itu saja, sebagai salah satu negara berbudaya Indonesia juga harus berani membentuk konvensi kebudayan internasional yang tujuannya untuk melindungi dan mengakui kepemilikan kebudayaan oleh etnis tertentu di negara tertentu.

Batik sebagai Proses Budaya

Perajin batik tulis di sentra kerajinan Batik Trusmi, di Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Perajin batik Cirebon nyatakan dukungannya atas upaya pelestarian seni batik daerah itu dengan menerapkan pelajaran esktrakulikuler membatik kepada siswa SD di kabupaten Cirebon.
Kamis, 1 Oktober 2009 | 20:16 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sejarah membuktikan batik adalah hasil proses budaya asli masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun. Proses ini jangan berhenti, tetapi justru berkembang setelah batik ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa yang membidangi budaya, Jumat (2/10), di Dubai.

Meskipun belum disebut membatik, seperti disampaikan Guru Besar Arkeologi UGM Timbul Haryono, teknik pengolahan kain tersebut telah dikenal sejak sebelum pengaruh Hindu masuk ke Nusantara sekitar abad IV Masehi. Bukti-buktinya tertuang di sejumlah prasasti dan arca kuno.

Sejumlah prasasti dari abad IX menyebutkan jenis-jenis kain yang diolah dengan teknik mirip batik. Salah satunya adalah Prasasti Balitung yang mengisahkan pesta di sebuah kerajaan. Setiap tamu kehormatan mendapat hadiah kain yang disebut bebet.

"Deskripsi kain ini mirip dengan teknik yang sekarang disebut batik. Dari bukti-bukti ini saya yakin batik asli budaya Jawa," ujar Timbul. Bukti-bukti itu dikuatkan dengan busana pada arca-arca kuno. Motif pada busana arca tersebut mirip dengan motif batik kawung yang dikenal saat ini.

Namun, asal-usul kata batik hingga saat ini belum terlacak. Dari kemiripan bunyi, sejumlah kalangan menduga batik berasal dari gabungan dua kata Jawa, yakni amba dan titik yang artinya membuat titik. Namun, belum ada bukti penguat dugaan itu.

Menurut Timbul, batik bukan sebuah penemuan tiba-tiba. Teknik pengolahan kain ini merupakan hasil proses budaya yang dikembangkan secara turun-temurun. Asal mula pengembangan batik di Jawa sendiri telah dimulai sejak zaman prasejarah. "Tapi karena bukti minim, maka agak sulit melacaknya," ujar Timbul, Kamis.

Proses panjang yang menghasilkan budaya adiluhung itu diharapkan tidak berhenti dengan adanya pengakuan batik sebagai salah satu warisan dunia yang ditetapkan UNESCO pada Jumat besok.

Pembatik di Giriloyo dan Karangtengah, Imogiri, mengaku bahwa keahliannya diwariskan turun-temurun. Keterampilan nenek moyang mereka didapat dari Keraton Yogyakarta. "Ini tak lepas dari faktor daerah yang dekat dengan makam raja-raja Imogiri. Mereka diajari orang keraton saat berziarah," kata Partinem (33), perajin di Karangrejek, Karangtengah.

Saat ini ada 30-an perajin di Karangtengah. Mereka menggunakan pewarna alam, dengan dua metode, yakni batik tulis dan cap. Batik cap baru muncul belakangan karena konsumen keberatan dengan harga batik tulis. Batik tulis, misalnya, dijual Rp 250.000 ke atas, sementara batik cap hanya Rp 50.000-Rp 100.000 per lembar.

Perajin batik tradisional di Banaran, Kulon Progo, berpendapat, pengakuan batik dari UNESCO belum memperbaiki kesejahteraan. Selama tidak ada kebanggaan memakai kain batik lokal, perajin tetap terpuruk. Widodo, perajin di Banaran, berani bertaruh, dari pemakai batik Jumat ini, tak ada 10 persen yang mengenakan batik lokal. Mayoritas pasti memakai batik Pekalongan atau Solo, yang lebih murah.

Parahnya lagi, di pasaran, batik printing yang meraja. Yang benar-benar batik sebenarnya hanya batik tulis, cap, dan kombinasi keduanya. Batik printing hanya kain bermotif batik. Menurut Murdijati Gardjito, Sekretaris Umum Paguyuban Pecinta Batik Sekar Jagad Batik, batik printing akan menghancurkan industri batik tradisional, juga mencoreng wajah Indonesia.

Harga murah, tak pelak memang daya tarik batik printing, seperti banyak dijual di sepanjang Malioboro. Wisatawan, terutama domestik, banyak membelinya sebagai oleh-oleh. Ramli, pedagang di Malioboro, mengatakan, baju terusan dan kemeja batik printing, misalnya, dijual Rp 15.000-Rp 30.000. Dalam sehari, 20-an potong pasti terjual. Ramli sendiri tak menjual batik cap.

"Sepekan terakhir, 30-an potong malah," ujar Ramli, yang sudah berjualan sejak tahun 2008. Beberapa hari terakhir, sebagian pedagang di Maliboro seperti Ramli juga berpakaian batik.

Agar mencintai batik, masyarakat mesti banyak disentuhkan dengan batik. Murdijati menyebut, itu bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya sebagai seragam di kantor-kantor, instansi, sekolah, kelompok masyarakat, hingga paguyuban trah. Perlu dibiasakan juga mengenakan batik tak hanya saat resepsi.

Sebagai bentuk pelestarian, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY tengah mempersiapkan 150 guru batik. Setelah memperoleh pelatihan, mereka akan diterjunkan ke sejumlah sekolah, mulai jenjang SD hingga SMA, untuk mengenalkan teknik membatik kepada para pelajar.